Buntut sapi, yang merupakan bagian ekor dari sapi, telah menjadi salah satu bahan masakan yang populer di Indonesia dan berbagai negara lainnya. Tekstur dagingnya yang unik, kaya gelatin, dan rasa khasnya membuat buntut menjadi bahan dasar yang istimewa untuk masakan berkuah hingga panggang.
Buntut sapi sudah lama menjadi bagian penting dalam tradisi kuliner Indonesia. Sejak masa kolonial Belanda, buntut sapi digunakan sebagai bahan masakan karena dianggap kurang bernilai dibanding potongan utama seperti tenderloin atau sirloin. Namun, masyarakat lokal justru menemukan cara cerdas untuk mengolah buntut menjadi hidangan yang lezat, seperti sup buntut.

Buntut sapi terdiri dari sebagian besar tulang dan daging. Potongan ini sering dijadikan sajian berkuah, goreng, atau bakar. Mengolah buntut sapi harus tepat agar baunya tidak tersisa saat matang dan tekstur daging empuk ketika dimakan
1. Tidak perlu dicuci
Hampir semua jenis daging sapi memiliki pengolahan yang sama, yakni tidak perlu dicuci. Pencucian daging, khususnya daging sapi, dikhawatirkan menyebabkan penyebaran bakteri lebih luas. Hal ini membuat metode memasak buntut sapi menjadi penting karena menentukan tekstur dan aroma akhirnya.
2. Rebus dan buang airnya
Langsung masukkan buntut sapi ke dalam air mendidih dan rebus hingga mengeluarkan buih di permukaan rebusan. “Air rebusan pertama ini harus dibuang biar tidak bau.
3. Rebus kembali dengan rempah
Buang air rebusan pertama, angkat dan tiriskan buntut sapi. Lanjutkan dengan merebusnya kembali. Bedanya, rebusan kali ini harus ditambahkan dengan bumbu dan rempah untuk menghilangkan sisa baunya. Buntut sapi harus direbus lama agar benar-benar empuk saat dimakan.
